Thursday, May 22, 2014

SEJARAH PHO, TARI TERTUA DI ACEH

Posted by helmi darisman On Thursday, May 22, 2014 | 2 comments
Tari Pho adalah tari yang berasal dari Aceh. Perkataan Pho berasal dari kata peubae, peubae artinya meratoh atau meratap. Pho adalah panggilan atau sebutan penghormatan dari rakyat hamba kepada Yang Mahakuasa yaitu Po Teu Allah. Bila raja yang sudah almarhum disebut Po Teumeureuhom.

Tarian ini dibawakan oleh para wanita, dahulu biasanya dilakukan pada kematian orang besar dan raja-raja, yang didasarkan atas permohonan kepada Yang Mahakuasa, mengeluarkan isi hati yang sedih karena ditimpa kemalangan atau meratap melahirkan kesedihan-kesedihan yang diiringi ratap tangis. Sejak berkembangnya agama Islam, tarian ini tidak lagi ditonjolkan pada waktu kematian, dan telah menjadi kesenian rakyat yang sering ditampilkan pada upacara-upacara adat.

Tari PhÔ adalah sebuah tari tradisi Aceh yang berasal dari Kabupaten Aceh barat. Tari ini tercipta dari sebuah legenda seorang Ibu yang meratapi kematian anaknya yang di hukum mati oleh raja karena di fitnah telah berbuat zina/khalwat. Dulu tari PhÔ hanya di tampilkan pada peristiwa kematian, tapi seiring perkembangan waktu tari PhÔ secara fungsinya berubah menjadi penghantar yang berisi nasehat seorang ibu untuk anaknya yang akan menikah.

PhÔ is a traditional dance from west Aceh district, Aceh province. This dance is created from a legend of a mother mourning the death of his son by the King, because the slander had committed adultery. PhÔ only show the moment of death, but as the time passes by its functionalities PhÔ dance turns into a conductor of advice a mother for her son who is getting married.

Sejarah Tari Pho.

Suatu Ketika di Blang Pidie, Aceh Selatan.

Si Malelang punya adik 
sepupu perempuan yang ibu dan ayahnya telah meninggal. Gadis itu dijodohkan dengan si Malelang. Untuk persiapan perayaan perkawinan buah hatinya, sejaka si Malelang kecil, sang ibu sudah menanam pinang, sirih, dan inai.

Namun, saat tumbuh dewasa, adik sepupu si Malelang berwajah cantik sehingga ada seorang pemuda di sana yang amat sangat suka padanya.

Ketika hari perkawinan yang direncanakan mendekat, ibu si Malelang ingin mengundang tetangga, kerabat, pembesar kampung dan warganya. Sebagai mana adat di bagian Barat dan Selatan Aceh, mengundang orang untuk menghadiri kenduri harus dengan sirih yang tersusun rapi berserta kapur dan pinang di dalam puan.

Ibu minta si Malelang panjang pinang, setiap dipetik dijatuhkannya. Si adik sepupu datang mencari calon suaminya. Begitu ia tahu Malelang di kebun pinang, maka ia mencari ke kebun yang dimaksud. Namun, dalam perjalanan, di tebing terjal, gadais itu terjatuh dan terkena duri di pangkal pahanya sampai berdarah.

Saat itu, anak muda yang amat sangat suka pada dia, melihat kejadian itu, lalu si pemuda berlarian ke kampung dan menyampaikan fitnah kepada hulu balang kampung dan rakyat, bahwa si Malelang telah memperkosa si gadis, dengan bukti ada darah di pahanya.

Walhasil, si Malelang dan tunangannya dijatuhi hukum pancung oleh hulu balang. Saat hendak dihukum, datanglah ibu si Malelang, ia meratap sehingga mirip sebuah nyanyian yang bersajak. Si ibu minta kepada hulu balang supaya mengizinkan keduanya menikah dan mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam sebagaimana direncanakan lagi pula ia sudah mengundang orang-orang. Hulu balang memenuhi permintaan tersebut.

Si Malelang minta ibunya membuat sambal daun encek gondok yang dalam bahasa di sana disebut bungong crot atau bungong yoh.

Beginilah ratapan ibu si Malelang yang malang:
"O bineuk sinyak dong di rot
kapot bungong crot pasoe lam ija

juloh juloh ie mon blang pidie
tujoh pucok jok keu taloe tima

O bineuk lon balek laen
puteh licen seuot beurata

Halo halo hai di kutidi
hai kumbang dodi oi kumbang dodi"


Ibu si Malelang ini meratap seraya menari-nari, para ibu lain yang melihatnya pun ikut hanyut dalam maha duka temannya, mereka ikut meratap dengan syair tersebut dan ikut menari bersama ibu si Malelang. Lama kelamaan gerakan mereka teratur mirip sebuah tarian.

Setelah si Malelang dan sepupunya menikah dan mengadakan pesta 7 hari tujuh malam, mereka dihukum. Setelahnya, ratapan dan gerakan ibu si Malelang bersama para ibu-ibu yang lain diulangi ketika mereka ingat kemalangan yang menimpa si Malelang dan kekasihnya. Lambat laun, syair dan gerakan itu menjadi tarian.

Penulis: Thayeb Loh Angen, PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki)
Sumber: Zufli Hermi, Sanggar Lempia (Lembah Gunung Piatu)


Download disini :
 
Tari Pho Versi Liza Aulia                 >>> Download

Tari Pho Versi Moritza thaher         >>> Download



2 comments:

  1. tragis sekali nasib mereka.

    ReplyDelete
  2. Terima Kasih gan !!
    Saya baru tahu ini gan... Sering saya mendengarnya di lagu-lagu Aceh tapi tidak tau maksudnya gan.

    ReplyDelete