Monday, April 14, 2014

MEMATAHKAN PERLAWANAN PIDIE

Posted by helmi darisman On Monday, April 14, 2014
PERANAN prajurit-prajurit dari Pidie yang dipimpin Teuku Pakeh Dalam cukup merepotkan Belanda menyerang Aceh untuk kedua kalinya, setelah gagal di agresi pertama pada 1873. Serangan-serangan yang dilancarkan untuk mengepung tentara Kerajaan Aceh, berhasil dilumat oleh prajurit Pidie seperti peperangan di Lambhuek. Hal inilah yang membuat petinggi militer Belanda mengubah taktik perang dan berinisiatif menyerang wilayah Pidie. 

Laporan Ali Bahanan, loh atau mata-mata Belanda, menyebutkan pasukan Pidie sedang memperbaiki benteng pertahanan Kuta Asan di saat perang masih berlangsung di ibukota Kerajaan Aceh. Benteng tersebut kemudian menjadi incaran Belanda agar pasukan Teuku Pakeh Dalam bisa dipatahkan. Veteran perang Jan van Swieten yang menggantikan posisi Komisaris Pemerintah Belanda, Niewehhuijzen memerintahkan satu eskader (skwadron) kapal perangnya, pada 27 Desember 1873. Kapal-kapal perang yang diutus yaitu Zeeland, Metalen Kruis, Citadel van Atwerpen, Borneo dan Banda. 

Skwadron kapal perang Belanda ini berangkat pada 28 Desember 1873 dan tiba di Kuala Pidie, pagi 29 Desember 1873. Kedatangan satu eskader kapal perang Belanda ini sama sekali tidak diduga oleh prajurit Aceh di Pidie. Sebagian di antaranya mengira kapal-kapal tersebut dalam rangka kunjungan biasa. Namun banyak juga yang sudah menebak Belanda akan menyerang wilayah tersebut meski sebagian besar penduduk belum diberitahukan. 

Satu skwadron kapal Belanda yang merapat di Kuala Pidie langsung memuntahkan meriam ke pemukiman penduduk. Hal tersebut membuat warga kocar kacir dan banyak bangunan yang terbakar. Benteng Kuta Asan yang ternyata mampu dijangkau meriam kapal perang Belanda turut menjadi sasaran. 

Pagi 31 Desember 1873, pasukan marinir Belanda dalam jumlah besar mencoba mendarat dengan alat senjata lengkap. Namun kedatangan marinir Belanda sudah ditunggu oleh pasukan Aceh yang mengendap di sekitar lokasi Kuala Pidie. 

Pertempuran terbuka tidak dapat dihindarkan dengan banyaknya korban di pihak marinir Belanda. Korban-korban terpaksa diangkat kembali ke kapal-kapal perang yang berada di Kuala Pidie menggunakan sloepflottiljes (sekoci kapal angkatan perang). Pertempuran berlangsung hingga petang dan akhirnya Belanda menyimpulkan tidak akan bisa merebut Kuala Pidie dan Benteng Kuta Asan. Apalagi bala tentara Aceh terus berdatangan dari pedalaman Pidie. Mereka terpaksa kembali ke Ulee Lheue dengan kapal-kapal perangnya. Sementara di ibukota Banda Aceh, peperangan antara dua kerajaan masih terus berlangsung.

Referensi: Aceh Sepanjang Abad jilid II karya H. Mohammad Said