Thursday, March 27, 2014

PEMERINTAH PERANG ACEH

Posted by helmi darisman On Thursday, March 27, 2014 | No comments

orang kaya Aceh tempo dulu
Sultan juga turut mengambil sumpah setia seluruh penduduk negeri menghadapi agresi Belanda tersebut.

PERNYATAAN Perang Belanda terhadap Aceh pada 1873 disikapi secara serius oleh Kerajaan Aceh Darussalam. Setelah menerima laporan secara terperinci dari Balai Siasat Kerajaan (Kepala Intelijen Negara), Sultan Alaidin Mahmud Syah langsung menggelar rapat akbar bersama seluruh pejabat istana dan pemuka negeri Aceh. Sultan juga turut mengambil sumpah setia seluruh penduduk negeri menghadapi agresi Belanda tersebut.

Merujuk catatan Ali Hasjmy dalam bukunya Peranan Islam Dalam Perang Aceh dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, menuliskan secara panjang lebar persiapan-persiapan yang dilakukan Kerajaan Aceh menghadapi serangan Belanda. Menurut Hasjmy, menghadapi ancaman dari luar negeri tersebut Sultan Aceh turut membentuk sebuah pemerintahan yang baru, yaitu Kabinet Perang. Inti pemerintahan baru ini terdiri dari tiga orang, sementara posisi sultan tetap sebagai kepala negara. 

Ketiga orang tersebut yaitu Tuanku Hasyim Banta Muda Kadir Syah, sebagai Wazirul Harb (Menteri Peperangan) merangkap sebagai Panglima Besar Angkatan Perang, dengan pangkat Jenderal Tentara Aceh; Tuanku Mahmud Banta Kecil Kadir Syah sebagai Warizul Mizan Wazirud Dakhiliyah-Wazirul Karijiyah (Menteri Kehakiman Menteri Dalam Negeri Menteri Luar Negeri) merangkap Wakil Kepala Negara Pemerintahan; dan Said Abdullah Teungku Di Meulek sebagai Wazir Rama Setia (Sekretaris Negara) merangkap Wakil Panglima Besar Angkatan Perang, dengan pangkat Letnan Jenderal Tentara Aceh. 

Sultan kemudian melantik Kabinet Perang tersebut pada 1 Muharram 1290 Hijriyah atau sekitar 1873 M. Ketiga menteri inti diambil sumpahnya dalam Masjid Istana Baiturrahim, dimana upacara pengambilan sumpah dipimpin oleh Kadli Mukhaddam Syeh Marhaban bin Haji Saleh Lambhuk.

Isinya sebagai berikut:

"Kami bersumpah, bahwasanya kami tiga orang sekali-kali tidak mau tunduk di bawah kekuasaan Holanda, dengan menyerah diri takluk di bawah kekuasaan siteru. Maka barangsiapa dalam tiga orang yang tersebut namanya dalam surat istimewa ini tunduk dan takluk ke bawah kekuasaan Holanda, maka ke atasnya kutuk Allah sampai pada anak cucunya masing-masing.” 

Setelah selesai pengambilan sumpah, Kabinet Perang langsung mengeluarkan perintah hariannya yang ditujukan kepada semua hulubalang dan rakyat Aceh. Surat ini disampaikan oleh Wazir Rama Setia/Wakil Panglima Besar Angkatan Perang, Said Abdullah Teungku Di Meulek. Perintah harian tersebut berjudul Surat Nasehat Istimewa Keputusan Kerajaan Melawan Hollanda, tertanggal 1 Muharram 1290 H atau sekitar 1873 M. Berikut bunyi surat tersebut: 

"Bismillahirrahmanirrahim,

Bahwa hamba memberi nasehat kepada sekalian tuan-tuan atas nama keputusan Kerajaan Aceh beserta ahliwaris kerajaan, dengan alim ulama dan rakyat Aceh khususnya dan rakyat bawah angin umumnya. Wahai tuan-tuan sekalian, hamba memberi perintah hari ini, bahwa sekalian tuan-tuan kita semuanya, bersiap-siap dengan apa senjata yang ada pada kita masing-masing karena kita semuanya akan menghadap bahaya maut, yaitu dua perkara: Pertama menang, kedua syahid; ketiga tidak ada sekali-kali, yaitu menyerah kalah kepada Holanda. 

Ingatlah tuan-tuan, disini hamba beri pernyataan dengan sahih sah muktamad, bahwa bangsa Holanda sudah dua ratus lima puluh tahun menjajah negeri bahwa angin di luar kita Aceh. Maka sekarang kita bersama-sama mempertahankan negeri kita Aceh. Sejengkal tanah negeri Aceh jangan kita berikan kepada musuh kita bersama, yaitu Holanda. Maka barangsiapa yang menyerah kepada Holanda dengan sebab tidak ada masyakkah, maka Holandalah ia. Maka orang yang demikian itu telah menjadi musuh Allah dan musuh Rasul dan Musuh Negeri dan musuh Kerajaan. Maka tiap-tiap musuh seperti yang hamba sebut itu walau siapa-siapa, berhak kita bunuh sidurhakan itu, jangan kita sayang pada sibangsat itu. Kalau kita sayang pada sibangsat itu, negeri kita Aceh alamat binasa, sengsara, huruhara,.... 

Bersatulah kita semuanya melawan Holanda, bangsa barat yang hendak merebut menjajah negeri kita Aceh. Jangan tuan-tuan ngeri dan takut, kita orang Islam wajib berperang melawan musuh dengan apa senjata yang ada pada kita masing-masing. 

Maka barangsiapa yang tuan-tuan dan hulubalang-hulubalang memihak berdiri kepada Holanda dengan sengaja, yaitu tidak ada masyakkah, maka Insya Allah Taala akan datang pada suatu zaman yang kebili kebilui anak cucu tuan-tuan muntah darah dan dimandikan dengan darah oleh rakyat sendiri masing-masing, walau besar walau kecil. 

Ingatlah wahai sekalian tuan-tuan hulubalang yang khadam negeri, mulai dahulu sampai sekarang hingga akan datang, bahwa tiap-tiap orang ada jabatan mengurus negeri dan mengurus rakyat, yaitu memelihara rakyat dengan menyuruh makruf dan menegah mungkar, dan sekalian rakyat jangan tuan-tuan perbudakkan, dan sekalian rakyat bukan buat tuan-tuan hulubalang; tetapi tuan-tuan yang hulubalang semuanya, timur barat tunong baroh, buat rakyat yaitu menjaga mengurus dengan sempurna supaya rakyat cinta kasih lahir batin pada sekalian tuan-tuan. 

Wahai sekalian tuan-tuan, bahwa rakyat itu seperti air sungai yang sangat luas lagi dalam, dan puncaknya dalam rimba gunung yang bercabang-cabang. Jika satu kali turun hujan besar, semua turun air ke dalam sungai, maka jadi banjirlah mengamuk air ke mana-mana, maka binasalah sekalian tanaman, apa-apa yang ada semuanya sudah tenggelam dengan air...”[] 

Sumber : Peranan Islam Dalam Perang Aceh Dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia karangan Ali Hasjmy.


0 comments:

Post a Comment