Monday, March 24, 2014

ACEH TEMAKAN SUMPAH INDATU

Posted by helmi darisman On Monday, March 24, 2014



Akhir - akhir ini aksi kekerasan semakin meningkat di nanggroe Aceh menjelang pemilu. Jika merunut ke belakang, tanoh  Aceh selalu bersimbah darah  dan terlibat konflik, baik dengan  pemerintah Jakarta, maupun perang saudara sesama orang aceh, saya tidak tahu apakah ini karena karakter masyarakat Aceh yang keras, atau ada sebab lain. 


Jika kita hitung selama masa kemerdekaan dari kurun 1945 hingga sekarang saja, sudah beberapa kali Aceh dilanda konflik. 


Yang paling fenomenal adalah Perang Cumbok. Terjadi pada 1946, ini konflik antara ulama dan bangsawan. Kaum ulama marah kepada sebagian bangsawan yang dianggap memihak Belanda. Tak sedikit kaum bangsawan yang dieksekusi tanpa proses pengadilan. Bahkan jasadnya tak sedikit yang dikubur di sumur-sumur tua. 


Setelah itu, tujuh tahun kemudian, giliran meletus perang DI/TII yang dipimpin Teungku Daud Beureuh. Daud kecewa pada Sukarno yang dianggapnya ingkar janji. Ini berlangsung selama 9 tahun. Daud Beureueh akhirnya turun gunung pada 6 Mei 1962, kembali ke pelukan ibu pertiwi. 


Berselang 14 tahun kemudian, muncul pemberontakan Hasan Tiro yang mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka. Dimulai sejak 4 Desember 1976, GAM sepakat berdamai dengan pemerintah Indonesia pada 15 Agustus 2005. 


Kini, di usia perdamaian yang baru 9 tahun tahun, Aceh kembali bersimbah darah. Kali ini bukan melawan pemerintah Indonesia, melainkan sesama orang Aceh. 


Mengapa konflik seolah enggan beranjak dari bumoe Aceh. Ini perlu kajian antropolog yang lebih mendalam. 


Namun, dalam kebingungan itu menemukan tulisan tentang sumpah kerajaan Aceh ketika akan melawan agesi Belanda pada 1873.
Pada 1872 Masehi, di dalam Masjid Baiturrahim Daruddunia (sekarang Masjid Raya), para pembesar kerajaan dan ulama membuat kesepakatan untuk berperang melawan Belanda. Kesepakatan tersebut kemudian dibungkus dalam sumpah yang dipimpin oleh Kadli Mu’adhdham Mufti Besar Aceh, Syekh Marhaban bin Haji Muhammad Saleh Lambhuk dengan disaksikan oleh para alim ulama Aceh. 


Sumpah tersebut berbunyi, “demi Allah, kami sekalian hulubalang khadam Negeri Aceh dan sekalian kami yang ada jabatan masing-masing kadar mertabat, besar kecil, timur barat, tunong baroh, sekalian kami ini semuanya, kami taat setia kepada Allah dan Rasul, dan kami semua ini taat setia kepada Agama Islam, mengikuti Syariat Nabi Muhammad Saw, dan kami semua ini taat setia kepada raja kami dengan mengikuti perintahnya atas yang hak, dan kami semuanya cinta pada Negeri Aceh, mempertahankan dari pada serangan musuh kecuali ada masyakkah, dan kami semua ini cinta kasih pada sekalian rakyat dengan memegang amanah harta orang yang telah dipercayakan oleh empunya milik. Maka jika semua kami yang telah bersumpah ini berkhianat dengan mengubah janji seperti yang telah kami ikrar dalam sumpah kami semua ini, demi Allah kami semua dapat kutuk Allah dan Rasul, mulai dari kami semua sampai pada anak cucu kami dan cicit kami turun temurun, dapat cerai berai berkelahi, bantah dakwa-dakwi dan dicari oleh senjata mana-mana berupa apa-apa sekalipun. Wassalam.” 


Sumpah ini kemudian dimasukkan dalam sarakata Baiat Kerajaan, bertulis tangan dengan huruf Arab. Naskahnya ditemukan kembali dalam dokumen peninggalan Wazir Rama Setia Kerajaan Aceh Said Abdullah Di Meulek. Naskah asli kini disimpan Said Zainal Abidin salah seorang keturunan Di Meulek, sementara foto kopinya ada di Pustaka Ali Hasjmy di Banda Aceh. (Referensi: Sumpah Kerajaan Aceh)


Pada 1 Muharram 1290 Hijriyah atau sekitar 1873 M, diambil sumpah tiga menteri inti. Tempatnya juga di dalam Masjid Istana Baiturrahim. Pengambilan sumpah dipimpin oleh Kadli Mukhaddam Syeh Marhaban bin Haji Saleh Lambhuk.
Isinya sebagai berikut:


"Kami bersumpah, bahwasanya kami tiga orang sekali-kali tidak mau tunduk di bawah kekuasaan Holanda, dengan menyerah diri takluk di bawah kekuasaan siteru. Maka barangsiapa dalam tiga orang yang tersebut namanya dalam surat istimewa ini tunduk dan takluk ke bawah kekuasaan Holanda, maka ke atasnya kutuk Allah sampai pada anak cucunya masing-masing.” 


Setelah selesai pengambilan sumpah, Kabinet Perang langsung mengeluarkan perintah hariannya yang ditujukan kepada semua hulubalang dan rakyat Aceh. Surat ini disampaikan oleh Wazir Rama Setia/Wakil Panglima Besar Angkatan Perang, Said Abdullah Teungku Di Meulek. Perintah harian tersebut berjudul Surat Nasehat Istimewa Keputusan Kerajaan Melawan Hollanda, tertanggal 1 Muharram 1290 H atau sekitar 1873 M.

Salah satu bagian surat ini berbunyi:

"Maka barangsiapa yang tuan-tuan dan hulubalang-hulubalang memihak berdiri kepada Holanda dengan sengaja, yaitu tidak ada masyakkah, maka Insya Allah Taala akan datang pada suatu zaman yang kebili kebilui anak cucu tuan-tuan muntah darah dan dimandikan dengan darah oleh rakyat sendiri masing-masing, walau besar walau kecil." (Referensi: Perintah Perang Aceh)
Kita tahu, perkembangan berikutnya tak sedikit hulubalang Aceh yang berpihak pada Belanda, sampai kemudian meletuslah perang Cumbok pada 1946.


Saya kembali terpekur mengingat kondisi Aceh hari ini. Air mata saya tiba-tiba saja tak terbendung. Apakah Aceh termakan sumpah indatu? []


Aceh Blogger Communty

KCC.COM

PATNER

PATNER